FK-KMK UGM & 3 Departemen Gelar Guest Lecture Series Gangguan Gerak dan Neurologi dari Basic hingga Klinis

YOGYAKARTA – Program Studi Magister Ilmu Biomedik FK-KMK UGM bersama Departemen Anatomi, Neurologi, dan Bedah Saraf FK-KMK UGM menyelenggarakan Biomedical Unique Verses Guest Lecture Series bertema “BASIC TO CLINICAL ASPECTS OF MOVEMENT AND NEUROLOGICAL DISORDERS: INSIGHTS FROM MANY SIGHTS” pada Selasa tanggal 02 Juni 2026 lalu.

Acara yang berlangsung secara hybrid ini menghadirkan Prof. Ryoma Morigaki, MD, Ph.D. dari Universitas Tokushima, Jepang sebagai pembicara utama, dengan moderator dr. Junaedy Yunus, M.Sc., Ph.D., selaku Ketua Departemen Anatomi FK-KMK UGM.

Dalam sesi pembuka, Prof. Morigaki membahas Neuropathology of Hyperkinetic Movement Disorders. Ia menjelaskan anatomi fungsional basal ganglia serta peran striatal compartment dan cerebellum dalam patogenesis dystonia. Prof. Morigaki mengklasifikasikan dystonia menjadi tipe fasik yang responsif cepat terhadap Globus Pallidus Internus Deep Brain Stimulation (GPi-DBS), serta tipe tonik yang responsnya lebih lambat. Ciri klinis tipe tonik meliputi postur kaku menetap dengan atau tanpa kontraktur, spastisitas, dropped head syndrome/antecollis, dan camptocormia.

Untuk kasus resisten terhadap GPi-DBS atau STN-DBS, ia mengusulkan target alternatif seperti centromedian/parafascicular nuclei dan ventrolateral nucleus pada thalamus, serta dentate nucleus dan superior cerebellar peduncle di area serebelum. Menurutnya, keseimbangan cAMP di striosomes merupakan kunci patogenesis molekuler gangguan tersebut. “Ini hipotesis saya berdasarkan riset yang sedang berjalan,” ujarnya.

Sesi kedua diisi dr. Mawaddah Ar Rochmah, Ph.D., Sp.N., yang membahas Pain in Parkinson’s Disease. Ia memaparkan bahwa nyeri merupakan gejala non-motor yang sering muncul pada pasien Parkinson. Nyeri ini dipengaruhi faktor jenis kelamin perempuan, keparahan motorik, dan fluktuasi akibat levodopa. Dalam diagnosis dan tata laksana, klasifikasi nyeri modern membaginya menjadi nyeri nosiseptif, neuropatik, dan nosiplastik. “Optimasi regimen dopamin biasanya sudah cukup memperbaiki keluhan nyeri pada pasien,” jelasnya.

Selanjutnya, dr. Dian Prasetyo Wibisono, M.Sc., Sp.BS., menyampaikan materi Surgical Treatment of Parkinson’s Disease. Ia mengulas opsi terapi bedah seperti Deep Brain Stimulation di target STN dan GPi, serta prosedur lesioning seperti pallidotomy dan thalamotomy. Ia juga membahas perkembangan MR-guided Focused Ultrasound (MRgFUS) yang menawarkan ablasi tanpa sayatan. dr. Dian menekankan bahwa DBS terbukti unggul mengatasi fluktuasi motorik, namun seleksi kandidat harus ketat karena risiko efek samping seperti penurunan kelancaran verbal dan peningkatan risiko bunuh diri pada tahun pertama pascaoperasi cukup tinggi.

Sesi terakhir ditutup oleh dr. Nur Arfian, Ph.D., dengan topik Animal Model in Kidney and Neurological Injury. Ia berbagi pengalaman pengembangan model ischemic reperfusion injury pada ginjal dan otak di Departemen Anatomi UGM. Model ini dibuat dengan clamping arteri dan vena untuk mempelajari perubahan struktural dan vascular remodeling pascacedera iskemia, serta relevansinya dengan cedera saraf seperti sciatic nerve injury. Ia juga menyoroti peran disfungsi endotel pada proses remodel pembuluh darah.

Kegiatan ini mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan pengembangan riset gangguan neurologi. Selain itu, acara ini selaras dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas lewat transfer ilmu dari pakar internasional, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi akademik FK-KMK UGM dengan Universitas Tokushima, Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *